INKAI Pasaman Jadikan Pencak Silat sebagai Sekolah Karakter Tangguh.

Minggu, 17 Mei 2026
PASAMAN – Di tengah gempuran budaya global dan tantangan degradasi moral di kalangan remaja, Ikatan Keluarga Pencak Silat Indonesia (INKAI) Kabupaten Pasaman hadir bukan sekadar sebagai wadah olahraga prestasi, melainkan sebagai benteng pembentukan karakter. Melalui pendekatan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” yang melekat erat pada filosofi silat Minangkabau, INKAI Pasaman berhasil mencetak atlet muda yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kokoh secara mental dan spiritual.
Silat: Lebih Dari Sekadar Jurus Bertarung
Bagi Pengurus Cabang (Pengcab) INKAI Pasaman, pencak silat adalah media pendidikan. Setiap latihan di sasaran (tempat latihan) tidak dimulai dengan pemanasan fisik biasa, melainkan dengan doa, penghormatan kepada guru, dan penanaman niat suci.
“Kami tidak mengajar anak-anak untuk menjadi preman. Kami mengajar mereka menjadi ‘Satrio Pinandito’—kesatria yang rendah hati. Di INKAI Pasaman, jurus tertinggi bukanlah yang paling keras, tapi yang paling bisa mengendalikan hawa nafsu, ujar H. SALAMAT, SE., M.Si selaku ketua INKAI Pasaman.
Salah satu dampak nyata dari keberadaan INKAI di Pasaman adalah penurunan tingkat kenakalan remaja di wilayah binaan. Banyak orang tua melaporkan perubahan positif pada anak-anak mereka setelah bergabung dengan INKAI.
Komitmen terhadap pembentukan karakter ini ternyata berbanding lurus dengan prestasi. Atlet-atlet binaan INKAI Pasaman rutin menyumbang medali dalam ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) Sumatera Barat hingga kejuaraan nasional IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).
Namun, bagi pelatih senior INKAI Pasaman, medali hanyalah bonus. “Yang membuat bangga adalah ketika atlet kami kembali ke kampung halaman, mereka menjadi tokoh masyarakat yang dihormati, tidak terlibat narkoba, dan aktif dalam kegiatan adat. Itu adalah kemenangan terbesar INKAI,” ujarnya.

Meskipun sukses dalam membangun karakter, INKAI Pasaman menghadapi tantangan klasik berupa keterbatasan fasilitas latihan yang memadai dan dana operasional. Sebagian besar sasaran masih menggunakan lantai tanah atau semen sederhana, serta minimnya peralatan pelindung (body protector) standar internasional untuk latihan sparring aman.
Pengcab INKAI Pasaman berharap adanya dukungan lebih serius dari Pemerintah Kabupaten Pasaman melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta dunia usaha setempat.
Investasi pada silat adalah investasi pada sumber daya manusia Pasaman yang berkarakter, disiplin, dan cinta tanah air,” tambah H. SALAMAT, SE., M.Si.
INKAI Pasaman membuktikan bahwa pencak silat tetap relevan di era modern. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan solusi kontemporer untuk mengatasi krisis identitas dan karakter pada generasi muda. Dengan menggabungkan ketangguhan fisik, keindahan seni, dan kedalaman spiritual, INKAI Pasaman terus berupaya melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Minangkabau yang beradab.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana silat dipelajari, di situ akhlak dijaga.”
(Redaksi). R.A MK.NEWS.COM.















