Merdeka itu Milik siapa kata R.A disela sela kesibukannya di MK.NEWS.COM

0
37

Merdeka Itu Milik Siapa?

Pasaman – Kemerdekaan seharusnya menjadi milik seluruh rakyat. Namun dalam praktiknya, kemerdekaan kerap terasa lebih dekat dengan mereka yang memiliki kekuasaan, modal, dan akses terhadap kebijakan. Sementara bagi sebagian rakyat, kemerdekaan justru hanya menjadi keyakinan yang disimpan di dalam dada.

Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan dengan upacara, pengibaran bendera merah putih, pidato kebangsaan, dan berbagai bentuk perayaan. Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang tidak pernah benar-benar terjawab: sejauh mana kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh rakyat biasa?

Bagi para pemegang kekuasaan, kemerdekaan dapat dimaknai sebagai kebebasan dalam menentukan arah kebijakan dan mengelola pemerintahan. Bagi pemilik modal dan kelompok oligarki, kemerdekaan sering kali dipahami sebagai keleluasaan dalam mengembangkan kepentingan ekonomi serta memperluas pengaruh.

Namun bagi rakyat kecil, makna kemerdekaan jauh lebih sederhana dan mendasar. Merdeka berarti dapat bekerja tanpa dihantui ketidakpastian kehilangan mata pencaharian. Merdeka berarti memperoleh akses pendidikan yang layak. Merdeka berarti mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. Merdeka berarti petani menerima harga yang adil, nelayan memiliki ruang hidup yang aman, dan pekerja memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi para pemegang kekuasaan, ucapan selamat HUT RI begitu mudah terlihat di media sosial dan berbagai grup WhatsApp. Ucapan tentang kemerdekaan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air mengalir deras, lengkap dengan foto, desain merah putih, serta slogan kebangsaan.

Namun bagi sebagian rakyat, berbicara tentang kemerdekaan bukan perkara sederhana. Bahkan untuk sekadar mengibarkan bendera merah putih pun masih ada yang merasa enggan, bukan karena tidak mencintai Indonesia, melainkan karena mereka mempertanyakan: kemerdekaan yang dirayakan itu, sudah sejauh mana benar-benar mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Bagi rakyat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup, kemerdekaan bukan sekadar ucapan di media sosial. Kemerdekaan adalah ketika mereka memperoleh kesempatan bekerja, mendapatkan penghasilan yang layak, memperoleh pelayanan publik yang adil, dan merasa memiliki ruang yang sama dalam kehidupan bernegara.

Karena itu, jangan buru-buru menilai rakyat yang memilih diam. Bisa jadi mereka bukan tidak mencintai negeri ini. Bisa jadi mereka sedang menyimpan makna kemerdekaan jauh lebih dalam—di dalam hati dan di dalam dada mereka.

Konstitusi telah menempatkan rakyat sebagai pusat dalam kehidupan bernegara. Namun dalam realitas sehari-hari, kondisi yang dihadapi sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan hal tersebut.

Ketika masyarakat masih berjuang menghadapi tingginya harga kebutuhan pokok, terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan ekonomi, serta akses layanan publik yang belum merata, kata “merdeka” dapat terasa sebagai cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud.

Dalam konteks inilah, kritik terhadap kekuasaan menjadi relevan dan penting.
Kekuasaan bukanlah musuh rakyat. Modal juga bukan sesuatu yang secara inheren harus dipandang negatif. Namun ketika keduanya terlalu dominan dan saling berkelindan hingga mengesampingkan kepentingan publik, maka makna demokrasi sebagai sistem yang berpihak pada rakyat menjadi berkurang.

Bagi sebagian masyarakat, kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk kesejahteraan yang langsung terlihat.
Merdeka bisa berarti keberanian untuk tetap bertahan. Tetap bekerja. Tetap menyekolahkan anak. Tetap mengolah lahan. Tetap berdagang meski keuntungan terbatas. Tetap menjaga harapan bahwa kehidupan suatu saat akan menjadi lebih baik.

Mereka mungkin tidak memiliki akses terhadap ruang-ruang kekuasaan, tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak mudah dirampas: harapan dan martabat.
Kemerdekaan sejati tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi juga sebagai kebebasan dari ketakutan, ketidakadilan, kemiskinan struktural, serta kondisi yang membuat rakyat merasa terasing di tanahnya sendiri.

Merah putih bukan sekadar simbol yang dikibarkan setiap bulan Agustus. Ia merupakan lambang perjuangan, pengorbanan, dan cita-cita kolektif bangsa.
Oleh karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum refleksi: apakah pembangunan telah benar-benar menghadirkan keadilan? Apakah kebijakan negara telah memberikan ruang yang memadai bagi masyarakat kecil? Apakah suara rakyat masih menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan?

Sebab bagi pemegang kekuasaan, kemerdekaan mungkin berarti kewenangan. Bagi pemilik modal, kemerdekaan mungkin berarti peluang. Namun bagi rakyat, kemerdekaan adalah ketika mereka dapat menjalani kehidupan secara bermartabat.

(Tim MK News Pasaman).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here