Ketika Langit Ranah Minang Menangis Cindy Monica Salsabila Datang Membawa Sercercah Cahaya.

0
546

Agam, Sumatera Barat , mediakriminalitasnews
03/12/2025

Di sebuah sore yang muram, ketika kabut turun perlahan menutupi perbukitan Minang, tanah yang retak dan air bah yang mengamuk meninggalkan kisah luka yang tak terperi. Harapan seolah luluh lantak bersama rumah-rumah yang terseret arus, dan suara tangis anak-anak pecah menjadi bagian dari angin yang berhembus pelan.

Namun di tengah gulita itu, tampak seorang perempuan muda menembus barisan reruntuhan. Langkahnya pelan, tapi mantap seolah tiap tapak kaki menyampaikan doa. Dialah Cindy Monica Salsabila, anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, yang datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa kehangatan hati.

Langit mendung seakan menyimak setiap langkahnya. Lumpur menodai sepatu, namun tak pernah menghalangi niatnya. Ia berhenti di samping sisa-sisa dinding yang tinggal separuh, seolah mendengar bisikan duka dari tanah yang tersayat.

Di pos pengungsian kantor Camat Tanjung Mutiara, ia membungkuk meraih tangan seorang ibu yang kehilangan rumahnya. Mata sang ibu yang sembap bertemu dengan tatapan Cindy yang lembut—dua perempuan, dua hati, satu rasa: pedih yang ingin segera sembuh.

“Saya merasakan beratnya situasi ini,” tutur Cindy dengan suara serak menahan haru. “Saya dan Fraksi NasDem menyerahkan bantuan seratus juta rupiah untuk saudara-saudara kita di Agam. Semoga langkah kecil ini menjadi cahaya di tengah kegelapan.”

Kalimatnya melayang di udara, seperti doa yang dihembuskan angin sore.

Anak-anak yang duduk memeluk lutut menatapnya dengan mata penuh harap. Cindy menyentuh kepala mereka satu per satu, seakan memulihkan keyakinan bahwa masa depan masih mungkin diperbaiki.

Ia melangkah lagi ke lokasi bencana, melewati puing kayu yang patah, genteng yang terpecah, dan tanah yang bergaris luka. Matahari mulai turun, menorehkan sinar keemasan yang memantul pada genangan air. Di dalam cahaya itu, siluet Cindy tampak seperti simbol kekuatan yang halus—tidak berteriak, tapi menguatkan.

“Kehadiran kita di sini bukan hanya sebagai wakil rakyat,” ucapnya perlahan, namun tegas, “melainkan sebagai sesama manusia yang saling memeluk dalam duka. Di sinilah nilai kebersamaan itu diuji.”

Warga memandangnya dengan mata yang perlahan menemukan kembali makna kata harap. Mereka tahu bahwa bantuan itu penting, tetapi lebih dari itu, kehadirannya yang tulus, yang tak terburu-buru adalah penawar luka yang tak tertulis.

“Semoga keadaan cepat membaik,” kata Cindy sebelum meninggalkan lokasi, tatapannya masih menyapu lanskap yang porak-poranda. “Kita kuat… karena kita bangkit bersama.”

Dan ketika langkahnya menjauh, angin sore membawa aroma baru. Bukan lagi hanya tentang tanah basah dan reruntuhan, tetapi aroma keberanian untuk memulai kembali. Di balik duka Ranah Minang, cahaya kecil mulai menyala dan hari itu, cahaya itu datang bersama Cindy Monica Salsabila.

PEWARTA MEDIAKRIMINALITAS.NEWS.COM.


[Ade Putra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here