
![]()
Pasaman,—mediakriminalitasnews
14/11/2025


Di balik aliran Sungai Batang Sinabuan yang tenang, ada denyut ekonomi baru yang menghidupkan ratusan keluarga di Kecamatan Duo Koto. Setiap hari, bantaran sungai di Nagari Simpang Tonang Utara itu berubah menjadi pusat aktivitas warga yang mendulang emas sebuah harapan baru yang mengembalikan senyum banyak keluarga.
Bila sebagian media memberitakan bahwa tambang emas ini meresahkan, merugikan, bahkan merusak, warga lokal justru menyebut kabar itu tidak benar dan jauh dari kondisi di lapangan.
“Justru di sinilah kami hidup.”
Justi, salah satu masyarakat setempat, menjadi saksi hidup bagaimana kegiatan tambang emas ini mengubah nasib banyak orang.
“Dulu saya kerja serabutan, tak tentu arah. Sejak mendulang emas, saya punya penghasilan tetap. Anak bisa sekolah, kebutuhan rumah terpenuhi. Ini sumber pendapatan utama kami sekarang,” ceritanya sambil tetap memegang alat dulang yang sudah menemaninya setiap hari.
Ia mengaku hampir setiap hari turun ke lokasi tambang. Dari pengamatannya, tak ada keresahan seperti yang diberitakan sebagian media. Yang ada justru pemandangan ratusan masyarakat bekerja dengan penuh semangat.
“Kami senang. Kami menikmati pekerjaan ini. Hampir 50 persen warga di Duo Koto hidup dari sini. Kalau ini diberhentikan, mau makan apa kami?” lanjutnya.
Tokoh Masyarakat: “Berita yang beredar itu menyesatkan!”
Jony Satri, tokoh masyarakat sekaligus pegiat media sosial yang dikenal vokal, juga angkat bicara. Saat dihubungi, ia dengan tegas membantah pemberitaan negatif yang sempat viral.
“Saya sudah turun langsung, memantau, melihat sendiri. Masyarakat sangat mendukung tambang ini. Banyak nilai positifnya! Jadi saya heran, masyarakat yang mana yang katanya keberatan?” ujar Jony.
Nada bicaranya meninggi ketika membahas konten-konten sepihak yang mengatasnamakan masyarakat Duo Koto.
“Jangan bunuh sumber ekonomi masyarakat Duo Koto demi kepentingan pribadi. Kita di sini rukun, damai. Yang saya lihat, pemuda yang dulu menganggur kini bekerja. Tingkat penyimpangan menurun. Ekonomi bergerak!” tegasnya.
Ratusan Keluarga Bergantung Pada Tambang
Menurut Jony, jika aktivitas ini dihentikan secara sepihak, ratusan kepala keluarga berpotensi kehilangan mata pencaharian. Dampaknya bukan hanya ekonomi, tapi juga sosial.
“Ini bukan sekadar tambang, ini napas hidup masyarakat,” ujarnya.
Sebagai putra daerah, ia memahami betul realitas ekonomi masyarakat Duo Koto.
Harapan Masyarakat: Legalkan Sebagai Tambang Rakyat
Warga Duo Koto sepakat: aktivitas tambang emas ini bukan musuh—justru penyelamat mereka. Karena itu, Jony dan para warga mendorong pemerintah untuk memberikan payung hukum.
“Harapan kami sederhana: jadikan ini tambang rakyat yang legal. Atur sesuai regulasi sehingga masyarakat terlindungi. Itu yang kami butuhkan,” tutup Jony Satri.
Ia juga berpesan kepada para pegiat media sosial:
“Beritakan fakta, bukan kepentingan pribadi. Perjuangkan kepentingan masyarakat banyak.”

Ade Putra@PEWARTA MK.NEWS.COM





















