Kakak beradik dilampung minta tolong bapaknya ditangkapkarena sudah kriminalisasi melalui snack vidio langsung direspon aparatur hukum@MK.NEWS.COM.

0
599

Sepasang Dua Kakak beradik di Lampung Minta Ayahnya Ditangkap karena Bunuh Ibu mereka viral di media sosial, Polisi Penuhi Permintaan Sang Bocah

MediaKriminalitas.News.comJumat, 28 Juli 2023 | Juli 28, 2023 WIB

 

MK.NEWS.COM@Al Rasyid, dan Salwa, dua bocah malang asal Lampung yang meminta Presiden Jokowi segera menangkap ayahnya yang telah membunuh ibunya. Keduanya kini hidup bersama dan dibesarkan oleh neneknya sambil terus berharap, keadilan segera datang dan ayahnya lekas ditangkap.

 

Lampung Tengah, laporkanupdate24

Video permintaan dua Kakak beradik di Lampung meminta Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk segera menangkap ayah mereka yang telah membunuh ibu kandung keduanya. viral di media sosial.

unggahan video yang viral, dua anak, laki-laki dan perempuan, dengan tegas memohon agar sang ayah segera ditangkap karena telah membunuh ibu mereka. Peristiwa pembunuhan itu terjadi tujuh tahun lalu, tetapi sang ayah belum ditangkap oleh pihak kepolisian dan keberadaannya tidak diketahui.

 

Kisah Pilu Kakak-Adik Asal Lampung Mengadu Pada Jokowi Minta Ayah Pembunuh Ibu Mereka Ditangkap viral di media sosial.// sumber vidio: Snackvidio/MK.NEWS.COM.2023.

“Kepada Bapak Jokowi dan Bapak Listyo saya meminta tolong untuk segera menangkap bapak saya yang telah membunuh ibu saya. Tragedinya pada tahun 2015 di depan saya sendiri pada waktu itu saya masih kecil, saya meminta pertolongan kepada Bapak Jokowi untuk segera menangkap bapak saya, terimakasih,”ucap sang bocah laki-laki dalam video dikutip Rabu (26/7/2023).

Kedua kakak beradik ini, Al Rasyid Pandu Pratama (12) dan Salwa Adzkia Nur Rasyidah (10), tinggal bersama nenek mereka, Sulastri (59 tahun), di Dusun Adiluhur, Kelurahan Bandar Sakti, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung.

Pada saat peristiwa pembunuhan terjadi, orang tua kedua anak tersebut telah bercerai. Namun, sang ayah datang untuk berkunjung dan berbuka puasa bersama anak-anaknya karena merindukan mereka.

Keesokan paginya, pertengkaran antara kedua orang tua terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Saat pertengkaran tersebut, sang ayah mengambil pisau dari dapur dan tanpa diduga menyerang ibu mereka dengan kejam.

Peristiwa tersebut disaksikan oleh sang kakak, Pandu, yang saat itu masih berusia 4 tahun. Setelah kejadian tragis itu, sang ayah langsung melarikan diri dan hingga kini belum tertangkap.

Meski sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit selama satu pekan, ibu kedua anak ini akhirnya meninggal dunia karena mengalami luka tusuk di beberapa bagian tubuhnya, termasuk wajah dan leher.

Saat ini, Sulastri harus menghidupi kedua cucunya, Pandu dan Salwa, dengan keterbatasan ekonomi. Rumah mereka sederhana dan hanya memiliki satu unit televisi dan kipas angin.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sulastri bekerja sebagai buruh tebang tebu. Sang suami tidak lagi dapat bekerja karena mengalami patah tulang tangan akibat kecelakaan sepeda motor.

Sulastri mengatakan, meskipun penghasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan, dia bersyukur karena dapat bekerja setiap hari.

“Ya alhamdulilah masalah pekerjaan itu ada saja yang nyuruh. Ya masalah penghasilan kalau orang perempuan ya untuk mencukupi ya tidak cukup, cuma ya alhamdulilah bisa kerja setiap hari,” kata Sulastri, saat ditemui di rumahnya.

Menurut Sulastri, kedua cucunya sering kali bertanya tentang keberadaan ayah mereka.

“Anak-anak kadang sering tanya bapak ke mana. Kemarin itu saya tanya kepada Pandu. Kalau bapak ketemu terus dipenjara bagaimana, terus yang kecil bilang tidak mau. Tetapi saya bilang kalau dipenjara kamu (Salwa) bisa ketemu. Terus Salwa bilang ya sudah tidak apa-apa dipenjara,” kata Sulastri sambil menirukan ucapan Salwa.

Pelaku pembunuhan mantan istri yang terjadi di Lampung Tengah, dibekuk polisi setelah 7 tahun buron

Ditangkap di Kalimantan Barat

Rangga Prayoga, pelaku pembunuhan mantan istri yang terjadi di Lampung Tengah, Lampung pada 17 Juni 2015 dibekuk polisi setelah 7 tahun buron. Petugas Sat Reskrim Polres Lampung Tengah menangkap Rangga Prayoga di Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat pada Rabu, 26 Juli 2023, pukul 03.00 WIB.

Sebelumnya pihak Polres Lampung Tengah menyatakan mengalami kendala untuk menangkap Rangga Prayoga karena sering berpindah-pindah tempat dari satu provinsi ke provinsi lain.

Rangga Prayoga ditangkap petugas Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lampung Tengah usai video curhat dua anaknya viral di media sosial. Dalam video itu, ARPP (11) dan adiknya SAN (9) memohon bantuan kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar Rangga yang merupakan pelaku pembunuhan ibu mereka segera ditangkap.

Setelah video itu viral, Polres Lampung Tengah kemudian membentuk tim dan berkoordinasi dengan satuan kerja (satker) kepolisian di beberapa provinsi untuk menangkap Rangga Prayoga.

Kasat Reskrim Polres Lampung Tengah AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata mengatakan, dalam upaya penangkapan Rangga, Polres Lampung Tengah berkoordinasi dengan kepolisian di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Rangga Prayoga saat ini sedang dalam perjalanan menuju Lampung untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait motif dan kronologi pembunuhan yang terjadi 7 tahun lalu tersebut. Polisi yang turun tangan kemudian berhasil menangkap RP di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, pada Rabu (26/7/2023). Kasat Reskrim Polres Lampung Tengah AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata membenarkan hal tersebut.

 

“Tersangka sudah diamankan Tekab 308 presisi Polres Lampung Tengah pada Rabu (26/7/2023) pukul 03.00 WIB, di Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat,” ungkap Dwi.

Dalam penangkapannya, Polres Lampung Tengah berkoordinasi dengan kepolisian wil ayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

“Masih dalam perjalanan ke Lampung, kami tangkap pelaku Rangga Prayoga setelah berkoordinasi dengan Polda Kalimantan Barat,” kata AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata, Jumat (28/7/2023).

Dalam penangkapannya, Polres Lampung Tengah berkoordinasi dengan kepolisian wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

 

“Kini tersangka dalam proses pengamanan dan selanjutnya akan ditindak secara hukum di Polres Lampung Tengah,” ujarnya.

Ternyata, sejak kejadian pembunuhan pada tahun 2015 lalu, Polres Lampung Tengah telah menetapkan ayah dua anak tersebut sebagai target operasi.

Pihak keluarga juga telah melaporkan hal tersebut ke Polsek Terusan Nunyai sehari setelah kejadian tepatnya tanggal 18 Juli 2015, dengan Nomor : TBL/158-B/VI/2015/LPG/RES LT/SEK TENUN.

AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata membantah penangkapan pelaku karena video dua anak korban viral di media sosial. Dwi Atma mengeklaim, jajarannya telah berulang kali berupaya menangkap Rangga, tetapi pelaku selalu kabur sebelum ditangkap.

“Saat laporan diterima, kami sudah mulai melakukan penyelidikan dan upaya penangkapan pelaku, tetapi pelaku selalu berpindah-pindah tempat,” ungkap AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata.

Diberitakan, viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan dua bocah yang meminta bantuan Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menangkap sang ayah atas kasus pembunuhan ibu mereka.

Dua bocah kakak beradik tersebut diketahui berinisial ARPP (11) dan adiknya SAN (9).

Kedua bocah kakak beradik laki-laki dan perempuan tersebut saat ini tinggal bersama nenek mereka, Sulastri (59) di Dusun Adiluhur, Kelurahan Bandar Sakti, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah.

Dalam video yang viral di media sosial, kedua bocah tersebut mengaku menyaksikan saat IS, sang ibu tewas di tangan ayahnya.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada 2015. Saat peristiwa tersebut terjadi, korban dan pelaku Rangga Prayoga sudah bercerai. Setelah melakukan pembunuhan, pelaku Rangga Prayoga kabur.

“Tragedinya pada tahun 2015, di depan saya sendiri, saya pas itu masih kecil. Saya minta pertolongan kepada Bapak Jokowi untuk menangkap bapak saya,” kata ARPP dalam video yang viral.

Selama menjadi buronan dan tinggal menetap di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat pelaku menikah lagi dan memiliki dua anak perempuan.

Aktivitas pelaku bersama keluarga barunya sempat dibagikan ke media sosial melalui akun Tiktok milik istri keduanya.

Saat ini ARPP dan SAN hidup dengan keterbatasan ekonomi karena Sulastri, nenek kedua bocah tersebut mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-sehari dengan menjadi buruh tebang tebu. Sementara suami Sulastri tidak lagi dapat mencari nafkah setelah mengalami kecelakaan sepeda motor.

Sulastri bersama kedua cucunya, ARPP dan SAN tinggal di rumah tidak layak huni berdindingkan geribik. Setelah video itu viral, bantuan pun berdatangan untuk mereka..

WWW.MEDIAKRIMINALITAS.NEWS.COM.

(Aprijal boca/MK.NEWS.COM)

OBSERVASI&INVESTIGASI.KONTRIBUTOR PEWARTA.MK.NEWS.COM.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here