

AGAM — mediakriminalitasnew
02/12/2025
![]()

Angin sore di Kayu Pasak membawa aroma lumpur dan serpihan kayu. Di kejauhan, terlihat bekas aliran galodo menerjang jalan terbelah, pepohonan tumbang, rumah-rumah tak lagi berbentuk. Beberapa warga duduk di pinggir puing-puing, sebagian memegang foto yang basah, sebagian lain hanya menatap kosong ke arah sungai yang membawa pergi segalanya.
Di tengah suasana yang seolah membeku oleh kesedihan itu, muncul satu pemandangan berbeda—rombongan kecil berjalan perlahan, memikul dus-dus bantuan dengan tangan sendiri. Mereka bukan tim besar dari lembaga nasional, bukan konvoi kendaraan dinas.
Itu adalah Rispondi, S.I.Kom., putra asli Pasaman, yang kembali ke tanah kelahirannya bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai saudara.
Ia datang ditemani keluarga besarnya. Tanpa pengawalan. Tanpa protokol. Hanya ketulusan.
Saat tiba di posko, langkah Rispondi sempat terhenti. Di hadapannya, seorang anak kecil berdiri tanpa alas kaki, memegang potongan selimut kotor. Sang anak menatapnya dengan mata sembab, mata yang bercerita tentang malam-malam penuh ketakutan.
Rispondi berjongkok, menyentuh kepala sang anak, dan menyerahkan selimut baru.
“Ini untuk adik, biar bisa tidur lebih hangat malam ini, ya…” ucapnya lembut.
Sang ibu tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk bantuan itu seolah sedang memeluk harapan baru.
Sejak hari pertama bencana, Rispondi dan keluarganya telah bergerak. Tak menunggu diberi panggung mereka justru datang saat panggung itu masih gelap, saat asap masih mengepul, saat warga masih menggigil.
“Ini bukan sekadar bantuan. Ini panggilan hati. Kalau bukan kita yang peduli pada kampung kita sendiri, siapa lagi?” kata Rispondi sambil memindahkan tumpukan air mineral ke meja posko.
Penyambutan warga luar biasa haru. Beberapa bahkan mencium tangan Rispondi, sebuah wujud rasa terima kasih yang datang dari hati paling dalam.
“Pak Rispondi adalah orang pertama yang datang membawa bantuan lengkap. Kami tak akan lupa kebaikan ini,” ujar seorang tokoh masyarakat, matanya berkaca-kaca.
Rispondi berharap masyarakat tetap kuat dan tidak kehilangan semangat.
“Kita boleh kehilangan rumah… tapi jangan kehilangan harapan. Selama kita bersama, kita bisa bangkit lagi.”
Di tengah puing dan lumpur, bantuan yang ia bawa mungkin tak menghapus semua luka. Namun kehadirannya memberi sesuatu yang jauh lebih mahal: perasaan bahwa mereka tidak ditinggalkan.
Dan malam itu, ketika langit Kayu Pasak mulai gelap, seorang warga berbisik lirih sambil menatap kepergian Rispondi:
“Bukan bantuan yang membuat kami terharu… tapi caranya datang. Seperti saudara yang pulang untuk merangkul kami yang sedang jatuh.”
PEWARTA MK.NEWS.COM.2025.

(Ade Putra)




















